\
Cik Pipi Tembam





profile chat entries credits +follow home



Embun Sinatra - Part 10
24 May 2012@12:42 AM
Pangeran Andika segera masuk ke dalam kereta lalu Pak Budi menghantarnya ke pejabat... Jam sudah menunjukkan pukul lapan pagi dan dia yang bertugas sebagai CEO Syarikat Embun Emas telah melatih dirinya untuk datang awal ke pejabat bersama-sama pekerja yang lain... Dia bukan mahukan pujian , malah dia menghargai setiap pekerja yang berusaha membangunkan lagi syarikat papanya itu... Sesudah sampai , dia mengarah Pak Budi agar mengambilnya pada petang nanti... Pak Budi mengangguk tanda setuju lalu membawa kembali kereta itu dan pulang ke rumah... Pangeran Andika masuk ke pejabat dengan segaknya... Banyak mata yang memandang ke arahnya... Pangeran Andika yang secara tiba-tiba sahaja berubah penampilan sedikit demi sedikit itu membuatkan para pekerja berbisik-bisik sesama sendiri... Ada yang berkata lebih kacak daripada biasa... Pangeran Andika berjalan ke arah biliknya sambil diperhatikan Suraya... Suraya menganga luas.. Tidak pernah dia melihat sepupunya itu kelihatan kemas seperti itu selepas dia putus hubungan dengan Maya... Suraya cepat-cepat mendapatkan Pangeran Andika di biliknya...

" Good morning handsome boss... You look great ! " puji Suraya manakala Pangeran Andika hanya mengerut dahi...

" Good morning... Kenapa tenung I macam tu ? Macam tak pernah tengok lelaki... You demam ke ? " perli Pangeran Andika kerana dia tidak gemar apabila perempuan melihatnya sebegitu... Giliran Suraya pula mengerut dahi...

" What's the matter ? I mean... Tiba-tiba you berubah macam ni... " Suraya bertanya...

" Salah ke I pakai macam ni ? Bukan kerja dekat pejabat kena pakai macam ni ke ? This is not your business Miss Suraya... Better you do your work... Mesti banyak kan ? Tolong set kan pukul tiga petang , I ada meeting dengan Dato' Aziz... " Pangeran Andika hanya mengarah Suraya... Sepertinya tiada respon yang menunjukkan ciri-ciri positif atau bangga pada dirinya... Dia merasakan dirinya hanya seperti lelaki lain... Suraya terus keluar daipada bilik sepupunya itu lalu menghampiri mejanya... Lantas kerusinya itu didudukinya...

" Hairan... Tak apa... Aku siasat perlahan-lahan... Sabar Suraya...., " Suraya berkata-kata di dalam hati... Sememangnya dia ingin tahu apakah yang terjadi kepada Pangeran Andika sehingga dia kelihatan seperti romeo pada hari ini dan banyak mata yang memandang ke arahnya... Dalam fikirannya , terdetik memikirkan Zurrah... Pasti Zurrah tahu !



****


Berbalik kepada apa yang diberitahu oleh Zurrah , pasti Datin Dayang Zaidah mahukan yang terbaik untuk anaknya itu... Mungkin juga Datin Dayang Zaidah mahukan dia jadi menantunya suatu hari nanti... Kalau begitu , pasti hidupnya senang lenang dengan limpahan harta kekayaan yang bakal diwarisi olehnya kelak...

" Are you sure , Zurrah ? Tak salah dengar kan ? Mana mungkin Andi boleh dapat bakal isteri dalam masa tiga bulan ? Untuk bertemu dan bercinta sekurang-kurangnya pasti setahun... , " jelas Suraya sambil meneguk air di hadapannya...

" Boleh lah... Mana tahu abang dapat jumpa pengganti Maya tu nanti... Naya kau ! " Zurrah mentertawakan Suraya kerana sangat yakin dengan kata-katanya itu...

" Yeke ? Aku jamin mesti dia tak dapat... Dan akhirnya , dia patuh cakap mama kau ! Tu lah saat-saat yang aku nantikan.... , " Suraya berangan lagi...

" Yelah , apa-apa pun kau bersabar jelah... Aku tak kisah siapa yang bakal jadi kakak ipar aku , janji orang tu mestilah berpakaian up-to-date macam kita ni , jangan pulak dia main kebas je minah kampung , tak pun orang gaji... ! " berdekah-dekah Zurrah ketawa... Baginya , fesyen amatlah penting mengikut peredaran zaman...

" Yup... Betul tu. Aku sokong sangat... Jangan kekampungan lah.. Memang takkan diterima mama nanti... " belum apa-apa lagi Suraya sudah membahasakan 'mama' walaupun Datin Dayang Zaidah hanyalah emak saudaranya...

" Eh dah dah... Makan cepat... Nanti abang bising kau masuk lambat.... " Zurrah mengingati Suraya...

" Ohh okay ! " Suraya cepat-cepat menghabiskan makanan tengah harinya sementara mendengar lagu-lagu indah yang dipasang di restoran itu...



Bersambung...